Taman Laut Bunaken

Salah satu dari surga dari lautan yang ada di Indonesia

Parrotfish

Ikan Berparuh burung, yang bisa memecah invertebrata kecil di lautan

Fakultas Ilmu Perikanan dan Ilmu Kelautan

Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang

Tampilkan postingan dengan label Perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perikanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juli 2021

Perbedaan Ikan Kiper dengan Baronang atau Masader

Perbedaan Secara Organoleptik atau Kasat Mata antara ikan kiper dengan Masader atau Baronang


Hasil foto yang saya bagikan nanti ini didapat sendiri pada saat mancing tadi pagi ya. Jadi sangat fresh ataupun jika nanti dalam penjelasan ada yang kurang benar bisa dikoreksi, ikan baronang sendiri dulu pernah tau sewaktu kuliah yang diajarkan oleh dosen spesialis tentang baronang. Dulu hanya bisa membayangkan tanpa memegang secara langsung. Syukurnya, kemarin waktu mancing di pinggir pantai dekat dengan tambak saya kerja. 

Baiklah, secara kesamaan ikan baronang atau masader dengan ikan kiper memiliki sifat herbivor dimana makanan salah satunya adalah lumut. Selain itu, setelah tadi saya buka organ dalamnya ternyat benar saja usus yang dimiliki kedua ikan ini sangat panjang dan terdapat lumut didalamnya. Hal ini sebagai dugaan saya bahwa ikan tersebut memiliki sifat herbivora.

Secara kasat mata, berikut penampakan foto dari kedua ikan ini,




Nah, sudah jelas belum fotonya? Terlihat sekali perbedaannya bukan. Jangan sampai kalian terkecoh ya, karena keduanya memiliki bintik-bintik tapi polanya beda. Penulis sendiri sih awalnya juga berpikir ikan ini sama. Maka, jika dilihat lebih lanjut perbedaannya sangat terlihat jelas. 

Sekian dulu ya, semoga sedikit informasi tentang ikan baronan dengan kiper dapat bermanfaat bagi pembaca. Bagi yang pengen memiliki foto tanpa oret-oretan bisa komen ya. Terimakasih




Minggu, 29 Juli 2018

KLASIFIKASI OBAT IKAN

Ilustrasi : Gambar Obat untuk Ikan / Udang


Hai hai hollaa sahabat perikanan semua, semoga selalu luar biasa dan tetap dalam lindungan-Nya ya sahabat... :) Sudah lama rasanya tidak menulis artikel tentang perikanan, nah karena buka-buka file dan tak sengaja buka folder terkait materi "Manajemen Kesehatan Ikan" maka ada hal menarik yang sekiranya dapat memberikan pengetahuan dan informasi kepada sahabat perikanan. Yuppsss... benar saja, yaitu terkait "Klasifikasi Obat Ikan," sesuai judul diatas sahabat :). Langsung saja deh, berikut beberapa uraian yang dapat penulis bagikan terkait "Klasifikasi Obat Ikan" sruputtt :

Penetapan Klasifikasi Obat Ikan

Ngomong-ngomong "Klasifikasi Obat Ikan" tentu perlu tau dulu dong, bagaimana penetapannya? Jadi, klasifikasi obat ikan ini berdasarkan klasifikasi bahaya yang ditimbulkan dalam penggunaannya, yang terdiri atas obat keras, obat bebas terbatas, dan obat bebas.


Definisi Ketetapan Klasifikasi Obat Ikan

Selanjutnya yaitu terkait pengertian masing-masing ketetapan klasifikasi obat ikan diantaranya :

A. Obat keras, merupakan obat ikan yang apabila penggunaannya tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya bagi ikan, lingkungan dan/atau manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut. Nah, bagi para pengguna obat keras ini perlu diperhatikan ketentuan yang berlakua ya... Sebaiknya sih dihindari untuk penggunaannya sahabat, karena obat keras ini beresiko membahayakan konsumen. Oh ya, perlu diingat juga bahwa obat keras ada yang diperbolehkan dan ada yang dilarang.

B. Obat bebas terbatas, merupakan obat keras untuk ikan yang diberlakukan sebagai obat bebas untuk jenis ikan tertentu dengan ketentuan disediakan dengan jumlah, aturan dosis, bentuk sediaan dan cara pemakaian tertentu serta diberi tanda peringatan khusus.Sesuai penamaannya nih, "obat bebas terbatas" jadi sederhananya obat ini memiliki ketentuan yang telah ditetapkan yang harus dipenuhi, selanjutnya obat inipun ketersediaannya terbatas dan tidak sembarang orang dapat mendapatkannya sahabat.

C. Obat bebas, merupakan obat ikan yang dapat diperoleh dan dipakai secara bebas tanpa resep dokter hewan dan/atau rekomendasi dari ahli kesehatan ikan. Sahabat semua pasti paham kan??? Benar saja, obat bebas ini bebas didapatkan, tapi tidak bebas juga sih... kan obatnya perlu bayar, hehe

Oh ya, perlu diketahui juga sahabat, apabila terdapat obat ikan baru yang mengandung zat berkhasiat baru, atau berkhasiat lama tetapi indikasinya baru, atau mengandung kombinasi baru dari zat tambahannya, maka diperlakukan sebagai Obat Keras.


Jenis Obat Ikan dan Penggolongannya


A. Obat Keras 
1.  Obat Keras yang diperbolehkan yaitu
     a) Antimikroba (Antibiotik, Antibakteria Non Antibiotik, Antifungal, dan Antiprotozoa) ada beberapa diantaranya yaitu :
           -- Golongan Tetrasiklina dengan nama zat aktif seperti Klortetrasiklina, Oksitetrasiklina, Tetrasiklina.
           -- Golongan Makrolida : Eritromisina
           -- Golongan Kuinolon : Enrofloksasina
    b) Lain-lain :
*untuk memudahkan  pembacaan maka penulisan dibawah  menunjukkan "Golongan : Nama Zat Aktif " ini berlaku sampai bawah ya sahabat...

          -- Anthelmetik : Pyrantel Pamoat, Levamisol, Prazikuantel;
          -- Zat Pewarna : Methylene Blue, Basic Bright Green Oxalate, Acriflavine, Brillian Blue, Tartazin, Alura red, Ponceau-4R, Sunset Yellow;
         -- Hormon : Gonadothropin Releazing Hormone (GnRH), Luteinizing Hormon Releazing Hormon / (LHRHa), Human Chorionic Gonadothrophin (HCG);
         -- Vaksin : Semua vaksin yang penyakitnya sudah ada di Indonesia.

2. Obat Keras yang dilarang yaitu :
     a) Antimikroba (Antibiotik, Antibakteria Non Antibiotik, Antifungal, dan Antiprotozoa) yaitu :
        -- Amfenikol : Thiamfenikol, Chloramfenikol, Fluorfenikol;
        -- Nitroimidazole : Dimetridazole, Metronidazole, Fluconazole, Tinidazole;
        -- Nitrofuran : Nitrofurantoin, Nifurpirinol, Furazolidone, Nifurtoinol;
        -- Makrolida : Virginiamisina, Tilosina, Spiramisina;
        -- Polipeptida : Zink Basitrisina
        -- lain-lain : Ronidazole, Dapson, Chlorpomazine, Cholicicine.

     b) Lain-lain :
        -- Zat Pewarna : Malachite Green dan Leuco Malachite Green, Crystal Violet (gentian violet) dan Leucocrystal Violet;
       -- Hormon : Estradiol Sintetis (dietil stilbestrol, benestrol, dienestrol), 17α-Metiltestosteron, HGPs (Hormone Growth Promotors);
       -- Anestetika dan sedativa : MS-22 (tricaine methanesulfonate);
       -- Organofosfat : Ether, Trifluralin, Dichiorvos, Trichlorfon;
       -- Tumbuh-tumbuhan : Aristholochia spp.


B. Obat Bebas Terbatas terdiri dari :

    1. Golongan Desinfektaan dan Antiseptik : Merthiolat (Thiomersal), Benzalkonium Chlorida, Boric Acid, Klorin, Chloramine, Copper Sulfat, Formaline, Iodine, Providone Iodine, Phenoxethol, Potasium Permangat (PK, KMnO4), Persenyawaan Peroksida, Kresol, Thymol, Glutaraldehyde, Sodium Thiosulfate,
    2. Lain-lain : Vitamin, Mineral, Asam Amino

C. Obat Bebas Terdiri dari : Immuno Stimulan, Probiotik, Prebiotik-Sinbiotik, Obat Alami, Enzyme, dan Asam Organik.

Ilustrasi : Serbuk Vitamin


Sedikit pemaparan diatas semoga sahabat pembaca paham dan memberikan manfaat ya, untuk kritik dan sarannya boleh dikomentar ya...

Untuk tulisan diatas berdasarkan "KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52/KEPMEN-KP/2014 NOMOR 52/KEPMEN-KP/2014 TENTANG KLASIFIKASI OBAT" lebih lengkapnya KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD



Jumat, 08 September 2017

Siklus Produksi Udang Vannamei (Litopanaeus vannamei)

Siklus Prduksi udang vaname secara garis besar dimulai dari persediaan benih, Indukan, Pembenihan atau Penetasan telur (hatchery), Pembibitan (tokolan) dan Pembesaran. Nah, dari beberapa siklus produksi tersebut seperti dikutip dari FAO memiliki skema siklus produksi udang vaname. Skema tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

Ok, mari kita bahas beberapa tahapan dalam produksi udang vaname, dimulai dari


Awal Persediaan Benih


Pada mulanya, benih ditangkap secara liar di alam untuk di budidayakan secara ekstensif di Amerika Latin hingga tahun 1990an akhir. Selanjutnya, dilakukan domestikasi dan program seleksi genetik sebagai usaha penyediaan benih PL secara konsisten yang unggul, tahan dan / atau bebas penyakit yang digunakan pada pembenihan. Beberapa benih dikirim ke Hawai pada tahun 1989 sehingga menghasilkan produksi garis SPF dan SPR, yang mengarah ke industri di Amerika Serikat dan Asia.


Pemijahan Induk Udang vanname


Masih dikutip dari FAO, ada 3 asal induk dilakukan untuk pemijahan induk, yaitu :

  1. Secara alami, induk ditangkap dilaut dengan kriteria berumur 1 tahun dan berat lebih dari > 40gram.
  2. Udang yang didapatkan dari tambak pembesaran (setelah 4-5 bulan; berat 15-2 gram), dipelihara kembali selama 2-3 bulan dan kemudian dipelihara ke kolam pematangan induk pada umur > 7 bulan dengan berat 30-35 gram.
  3. Membeli dari induk SPF/SPR dari Amerika Serikat pada usia 7-8 bulandan berat 30-40 gram.


Induk yang tersedia kemudian dipelihara pada kolam pematangan gonad diruang gelap dengan air laut bersih dan sudah di filter sebelumnya. Pakan yang diberikan berupa pakan segar. Salah satu mata dari masing-masing induk berina dilakukan ablasi (dipotong) dengan tujuan untuk mempercepat pematangan gonad secara berulang. Induk betina reproduksi efektif berumur 8-10 bulan, sementara jantan mencapai puncak pada> 10 bulan. Tingkat pemijahan terjadi 5-15 persen / malam, tergantung pada sumber induk. Setelah Induk betina melepaskan telur atau memijhan kemudian dilakukan pemindahan pada kolam terpisah (untuk menghindari penularan penyakit). Sore berikutnya, nauplii sehat tertarik oleh pada cahaya, dikumpulkan dan dibilas dengan air laut. Mereka kemudian didesinfeksi dengan yodium dan / atau formalin, dibilas lagi, dihitung dan dipindahkan ke bak penampungan atau langsung ke bak pemeliharaan larva.

Produksi Benih / Hatchery


Pada pembenihan dimulai dari stadia naupli, bak pemeliharaan bisa berupa kolam datar atau lebih baik menggunakan bak berbentuk 'V' atau 'U' dengan volume 4 hingga 100 m3, terbuat dari beton, fiberglass atau berbahan plastik. Pemeliharaan larva dilakukan hingga PL10-12 (ukuran rata-rata >60%). Pergantian air secara terartur dilakukan sebanyak 10-100% setiap hari untuk menjaga lingkungan yang baik. Pakan alami yang diberikan berupa mikroalga (chaetoceros; skeletonema; talassiora) dan Artemia, ditambah pakan buatan encapsule mikroba baik cair atau kering. Penetasan hingga PL12 dibutuhkan waktu sekitar 21 hari hingga panen benih. Upaya untuk mengurangi kontaminasi bakteri/ patogen terhadap fasilitas larva maka dilakukan desinfeksi, pengelolaan air masuk, penyaringan atau klorinisasi, desinfeksi naupli, pergantian air dan penggunaan probiotik.

Pembibitan atau Pentokolan


Pada kebanyakan petani, pembibitan atau petokolan lebih sedikit dilakukan karena pada kondisi ini, PL-12 sudah termasuk daya tahan kuat sehingga langsung dilakukan pada budidaya pembesaran. Petokolan sendiri biasanya dilakukan pada bak beton atau tambak biasa selama 1 - 5 minggu.



Pembesaran


Pembesaran udang vaname terbagi atas 4 sistem yaitu extensif (tradisional), semi-intensif, intensif dan super intensif. Lalu.... Apa perbedaan antara sistem budidaya extensif (tradisional), semi-intensif, intensif dan super intensif?

Baiklah... untuk pertanyaan tersebut akan dibahas lebih lanjut pada postingan selanjutnya... sabarrr :D

Terimakasih, semoga membantu.


Sumber : FAO

Rabu, 06 September 2017

Habitat dan Tingkah Laku Udang WIndu (Panaeus monodon)


Habitat dan Tingkah Laku Udang Windu



Habitat udang windu (P. monodon) adalah laut dan dikenal sebagai penghuni dasar laut. Namun hanya udang windu dewasa yang mencari tempat yang dalam di tengah laut. Saat muda, udang windu (P. monodon) berada di perairan yang dangkal di tepi pantai, bahkan ada yang memasuki muara sungai dan tambak berair payau. Udang termasuk hewan euryhaline (dapat mentolelir kisaran salinitas yang luas). Udang windu dapat hidup pada salinitas 3 -  35 ppt. Selain bersifat euryhaline, udang windu juga bersifat eurythermal yaitu hewan yang dapat mentolelir perubahan suhu yang luas. Goncangan suhu yang besar dimedia kultur, terutama ditambak pada musim kemarau, yaitu pada siang hari suhu mencapai 32 0C dan pada malam hari suhu menurun menjadi 22 0C masih dapat ditolelir oleh udang, walaupun pada kondisi demikian, udang sensitif terhadap serangan penyakit (Ghufron, 2010).
Semua udang memiliki sifat alami yang sama, yakni aktif dalam kondisi gelap (nocturnal), baik aktifitas untuk mencari makan dan reproduksi. Beberapa indra yang digunakan udang untuk mendeteksi makanan adalah penglihatan (sight), audiosense, thermosense dan chemosense. Berdasarkan keempat indra tersebut chemosense atau chemoreseptor merupakan alat yang paling peka untuk mendeteksi pakan yang diberikan. Udang pada saat mencari makan lebih mengandalkan indera perasa seperti antenna flagella, rongga mulut, kaki jalan (pereipoda), carapace dari pada indra penglihatan (Sumeru dan Suzy, 1992).
Udang pada siang hari hanya membenamkan diri pada lumpur maupun menempelkan diri pada suatu benda yang terbenam dalam air. Apabila keadaan lingkungan tambak cukup baik, udang jarang sekali aktif bergerak diwaktu siang hari. Apabila pada suatu tambak udang tampak aktif bergerak di waktu siang hari, hal tersebut merupakan tanda bahwa ada yang tidak sesuai. Ketidaksesuaian ini disebabkan oleh jumlah makanan yang kurang, kadar garam meningkat, temperatur meningkat, kadar oksigen menurun ataupun timbulnya senyawa-senyawa beracun (Suyanto dan Mujiman, 2004).


KEPUSTAKAAN

Ghufran, M. 2010. Pakan Udang: Nutrisi, Formulasi, Pembuatan, dan Pemberian. Akademia. Jakarta. 102 hlm.

Sumeru, S.U dan S. Anna. 1992. Pakan Udang Windu (Penaeus monodon)., Yogyakarta: Kanisius.

Suyanto, R. dan Mujiman, A. 2004. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta. 211 hlm.

Jumat, 01 September 2017

Anatomi Moluska Kelas Chepalopoda

Moluska sendiri merupakan  hewan triploblastik selomata yang bertubuh lunak. Ke dalamnya termasuk semua hewan lunak dengan maupun tanpa cangkang, seperti berbagai jenis siput, kiton, kerang-kerangan, serta cumi-cumi dan kerabatnya.

Moluska merupakan filum terbesar kedua dalam kerajaan binatang setelah filum Arthropoda. Saat ini diperkirakan ada 75 ribu jenis, ditambah 35 ribu jenis dalam bentuk fosil. Moluska hidup di laut, air tawar, payau, dan darat. Dari palung benua di laut sampai pegunungan yang tinggi, bahkan mudah saja ditemukan di sekitar rumah kita.


Bagaimana ciri moluska dari kelas chepalopoda?

MOLUSCA dari kelas Cephalpoda memiliki :


  •  Saluran pencernaan yang lengkap
  •  Enzym dan kelenjar pencernaan 
  •   Struktur memakan yang khas 
  •  Shell lunak, dan tentacle sebagai tangan


  Sistem peredaran darah

  •     - Jantung terdiri dari 2 bilik
  •     - Peredaran darah sistem tertutup

 Coelom  terbatas pada pericardium (pada sebagian molusca)

Apa saja contohnya?

Octopus briareus

Giant cuttlefish (Sepia latimanus)


Nautilus sp

Octopus sp



Langsung saja, berikut merupakan anatomi dari chepalopoda :







Baiklah, cukup demikian sedikit uraian tentang anatomi chepalopoda. Apabila ada tambahan info bisa di komen ya gan... Terimakasih


Kamis, 24 Agustus 2017

Tingkat Kematangan Gonad pada Induk Udang Windu

Mengenal Lebih Dekat dengan Induk Udang Windu 

(Panaeus monodon)

Gambar 1. Induk Udang Windu (Dokumentasi pribadi)


Sebelum mengetahui Tingkat Kematangan Gonad atau TKG Induk Udang Windu, alangkah baiknya sahabat mengetahui perbedaan antara induk jantan dan betina secara organoleptik dari alat kelamin yang dimiliki,

Perbedaan Alat kelamin antara Induk Jantan dan Betina Udang Windu, 
 
Gambar 2. Induk Jantan 
(Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3. Induk Betina
(Dokumentasi Pribadi)

Oh ya, jika kurang jelas bisa di zoom....

Setelah sahabat mengerti perbedaannya induk jantan dan betina selanjutnya, bagaimana cara untuk mengetahui TKG induk? secara sederhana yaitu dengan memberikan cahaya dari bawah induk udang dengan lampu senter, kemudian akan terlihat sebagai berikut :
 
Maaf ya sahabat, untuk ciri-cirinya saya capture dari MS.Word, maksud penulis hanya berupaya agar sahabat lebih berminat membaca saja, hehe

Menurut Pujianti et al. (2014), TKG I selama 3 hari, TKG II selama 3 hari, TKG III selama 4 hari, dan TKG IV selama 4 - 5 hari. Perkembangan gonad dipicu oleh kualitas induk, pakan dan kondisi lingkungan. Semakin besar ukuran induk akan semakin berkualitas karena tubuh telah dewasa. Pakan berkualitas sangat berpengaruh pula dalam perkembangan gonad. Beberapa jenis pakan segar seperti daging cumi-cumi, kerang dan cacing darah sering digunakan dalam proses produksi induk matang gonad. 
  
Seperti itulah kiranya yang dapat penulis bagikan, jika ada kekurangan atau kekeliruan, kritik dan saran dari sahabat sangat kami harapkan di kolom komentar... Terimakasih
 




KEPUSTAKAAN
 
Pujianti, P., Suminto, dan D. Rachmawati. 2014. Performa Kematangan Gonad,    Fekunditas, dan Derajat Penetasan Udang Windu (Penaeus monodon Fab.)   Melalui Subtitusi Cacing Laut dengan Cacing Tanah., Journal of        Aquaculture Management and Technology., 3(4): 158 - 165.
 


Senin, 21 Agustus 2017

Perbedaan Sirkulasi dan Resirkulasi

Istilah Sirkulasi dan Resirkulasi pada Perikanan Budidaya


Sirkulasi sendiri menurut kbbi adalah peredaran. Tetapi, disini kita akan membahas sirkulasi pada dunia perikanan budidaya. Istilah "sirkulasi" ini dikenal dengan pergantian air pada kolam atau akuarium ataupun media perairan yang terbatas dan teratasi sebanyak 10 sampai 50% volume awal. Seperti contoh diatas, tinggi air semula 80 cm kemudian di keluarkan hingga 60 cm arau sebanyak 25%, setelah itu air baru dimasukkan untuk mengganti air yang dikeluarkan.


Nah, bagaimana dengan penyifonan? Penyifonan sendiri merupakan bagian dari sirkulasi, dimana pada saat melakukan pengeluaran air biasanya diselingi dengan mengeluarkan kotoran yang terdapat didasar kolam. Ingat ! Penyifonan anya dapat dilakukan pada ikan yang berukuran besar untuk menghindari ikan tersedot keluar oleh air, biasanya pada saat penyifonan selang diberi saringan dimaksudkan untuk menghindari ikan terbawa oleh aliran air.

Alat  yang digunakan diantaranya selang untuk mengeluarkan air dan penyaring.

Secara sederhana, sirkulasi berarti pergantian air pada kolam sebanyak (baiknya) 10%-30% dari volume air semula, tujuannya untuk memperbaiki kualitas air. Ala Lalu, apa bedanya dengan resirkulasi? Secara singkat, resirkulasi adalah air yang berada dikolam akan disaring dengan media tertentu setelah air bersih kemudian air dialirkan kembali kedalam kolam. Lebih jelasnya dapat dilihat pada postingan sebelumnya RESIRKULASI

Cukup sekian dulu ya, bila ada kekurangan ataupun kesalah dikomen aja ya gan.... Terimakasih

Jumat, 21 Juli 2017

Habitat dan Daur Hidup Udang Windu

Baiklah, sesuai judul maka ada penjelasan nih, sebelumnya pesan penulis ada baiknya kalau di baca secara teliti dan mohon tetap membaca kepustakaan yang asli untuk menghindari seputar plagiatism dan jangan asal COPAST ya, hehe

Yosshh.... Berikut bisa dibaca :



Benur atau larva udang yang diperoleh dari alam dapat dibedakan berdasarkan ukurannya, yaitu benur halus yang disebut (post larva) dan benur kasar (juvenil). Benur (post larva) biasanya terdapat di tepi-tepi pantai, bersifat pelagis dengan warna coklat kemerahan dengan panjang 9-15 mm. Benur (juvenil) biasa terdapat muara-muara sungai ataupun terusan-terusan. Hidupnya bersifat benthis, yaitu suka berdiam di dekat dasar perairan. Antena berbelang-belang selang-seling coklat dan putih atau hijau kebiruan (Purnamasari, 2008).
Habitat udang berbeda-beda tergantung dari jenis dari persyaratan hidup dalam stadia daur hidupnya. Udang windu bersifat euryhaline yaitu mampu hidup di laut dengan salinitas tinggi hingga perairan payau yang bersalinitas rendah. Udang windu juga bersifat bentik, hidup pada permukaan dasar laut yang terdiri dari campuran lumpur dan pasir. Udang mampu membenamkan diri pada lumpur dan menempelkan diri pada sesuatu benda yang terbenam dalam air pada siang hari. Keadaan lingkungan yang tidak sesuai mengakibatkan udang bergerak aktif di siang hari. Ketidaksesuaian disebabkan oleh jumlah makanan yang kurang, kadar garam perairan meningkat, suhu meningkat, kadar oksigen menurun, ataupun karena timbulnya senyawa-senyawa beracun (Pangaribuan, 2011).
Menurut Sutanti (2009), selama siklus hidupnya larva udang windu mengalami beberapa perubahan bentuk atau pergantian stadia. Perkembangan larva diawali dari stadia nauplius yang terjadi setelah telur menetas. Telur udang akan menetas menjadi naupli setelah 14-15 jam. Naupli masih mengandalkan kuning telur sebagai sumber energi dan belum mengambil pakan dari luar. Naupli bermetamorfosis menjadi zoea setelah 30-35 jam kemudian. Naupli yang baru menetas memiliki panjang tubuh 0.31-0.33 mm dengan proses pergantian kulit sebanyak 6 kali. Sesaat kuning telur mulai habis pada stadia zoea, sehingga dibutuhkan diatom sebagai makanannya. Setelah melalui 3 kali moulting (4-5 hari), zoea berubah menjadi mysis. Pada stadia mysis mengalami 3 kali moulting (3-5) hari sampai mencapai stadia pasca larva. Stadia pasca larva mulai mampu makan hewan kecil yang aktif berenang dan pergerakannya lambat seperti Artemia. Larva udang sampai PL-5 masih bersifat planktonik dan mulai besifat bentik pada stadia PL-6.
Siklus  Hidup Udang Windu. (Darmono didalam Pangaribun, 2011)
Udang windu mengalami lima kali perubahan yaitu embryo, larva, juvenile young (muda), immature (belum dewasa), dan mature (dewasa). Masa embryo merupakan masa setelah terjadi pembuahan, kemudian periode larva dimulai setelah telur menetas. Pada periode juvenile semua organ tubuh larva telah terbentuk. Pada periode juvenil, udang bermigrasi ke daerah mulut sungai atau daerah yang terlindung dan didaerah ini udang pada periode juvenile tumbuh menjadi udang muda (young). Migrasi udang dari mulut sungai menuju laut lepas, menunjukkan bahwa udang tersebut menuju masa kedewasaan (Pangaribuan, 2011).
 

KEPUSTAKAAN



Pangaribuan, Margaretha. 2011. Uji Ekstrak Daun Sirsak Terhadap Mortalitas Ektoparasit Benih Udang Windu Stadia Post Larva 15 Di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. [SKRIPSI]. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Purnamasari,G.H. 2008. Analisis Permintaan Benur Udang Windu Di Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. [SKRIPSI]. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Sutanti,Asri.2009. Pengaruh Pemberian Bakteri Probiotik Vibrio Skt-B Melalui Artemia Dengan Dosis Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Pasca Larva Udang Windu Penaeus Monodon. [SKRIPSI]. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor