Taman Laut Bunaken

Salah satu dari surga dari lautan yang ada di Indonesia

Parrotfish

Ikan Berparuh burung, yang bisa memecah invertebrata kecil di lautan

Fakultas Ilmu Perikanan dan Ilmu Kelautan

Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang

Tampilkan postingan dengan label Celotehku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celotehku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Maret 2019

Celoteh Kesekian

Tentang Sosok Beliau




Bismillah, sepertinya sudah lama tidak kutuliskan sesuatu tentang blog ini. Kalau boleh jujur, sebenarnya banyak tulisan atau untaian kata hingga menjadi puisi yang tersimpan di draft dan tidak untuk diposting sih. Hmm, malam ini udara terasa sejuk, apalagi dipinggir pantai. Bayangkan saja, jarak antara bibir pantai (laut) sekitar 70 m. Ya begitulah, karena tidak mungkin dong industri perikanan terutama budidaya udang didataran tinggi. hehe, sebenarnya sih mungkin saja, tapi kali ini bukan untuk membahas perikanan. Namun, tentang sosok beliau "Mak, Bapak"

Selama ini aku merasa orang yang kurang beruntung karena sedari kecil mungkin tidak merasakan atau mungkin sudah lupa merasakan kasih sayang seorang Ayah/Bapak karena semasa kurang lebih usia 2 tahun Ayah/Bapak sudah pergi ke Pangkuan-Nya. Lahul Fatikhah...Teringat sekali sewaktu kecil dulu ketika bertanya ke Ibu/Makku belia selalu bilang "Bapak pergi haji" huhh... Betapa bahagianya waktu kecilku sewaktu diberitahu seperti itu. Kalimat itu akan selalu kuingat, bagaimana hal itu menunjukkan betapa lembutnya kasih yang diberikan Ibu/Makku hingga tidak tega membuat hancur hati anak kecilnya dahulu.

Seiring berjalannya waktu aku mulai paham dan sempat berpikir "Bapak haji, tapi kok gak pulang-pulang ya?" hmm, semasa kecilku dulu ( sewaktu SD) langsung saja spontan bertanya kepada Ibu/Makku, beliaupun mulai jujur bahwa Bapak sudah meninggal. Seolah seperti anak kecil yang sudah dewasa, aku hanya terdiam tak mampu menangis hanya isakan kecil dalam hati dan mata berkaca-kaca yang tak sempat kutumpahkan karena melihat Mak yang menahan pilu untuk menguatkanku. Hanya sebatas foto KTP yang diperlihatkan Beliah, dengan memandangku dengan kasih lembutnya seolah melihat sosok Bapak yang tergambar dalam wajahku seraya berkata "kamu mirip Bapakmu Nak, hidungnya mancung kulitnya bersih." Dengan penuh tawadhu' seorang anak kepada orang tua akupun meng-iya-kan. Tak banyak kata yang mampu kuucapkan sewaktu itu.


Bersyukur

Hmm... (kupejamkan mata dan bersyukur atas yang diberikan-Nya 'Alkhamdulillah')
Aku seringkali iri ketika melihat mereka yang diajak Bapaknya bermain atau sekedar diajari naik sepeda, bahkan sampai sekarangpun seringkali baper ketika melihat atau mendengar cerita dari kawanku yang barus saja dinasihati Bapaknya. Pikir dan hatiku kompak berkata "Ya Allah, betapa beruntungnya temanku ini" sambil tersenyum dan sedikit memejamkan mataku.

Aku bersyukur, memiliki keluarga yang sederhana serta seorang Mak yang luar biasa. Jikalau teman-temanku jarang melihatku marah, jangan heran! Ya, mungkin karena dididik dari seorang wanita yang lembut hatinya. Bahkan rasanya sampai sekarang belum pernah dimarahin Makku sampai sebegitu hebatnya. Paling, dulu sewaktu nakal-nakalnya yang memarahiku yaitu Mbakku.

Sedikit cerita, pernah sewaktu SD mengumpat kata "Kakekane" didepan rumah dan Mbakku mendengar ucapanku itu  (bukkk) sandal jepit mendarat dibibirku. Hufft, sakit sekali dan langsung spontan nangis waktu itu. Mulai saat itu tidak berani mengucap kata umpatan lagi sewaktu kecil. Sebenarnya banyak tentang kejadian yang membuatku kena fisik langsung oleh Mbakku, seperti sewaktu dulu ngaji bakda maghrib dan aku belum berangkat. Langsunglah pukulan mendarat... Namun, aku bersyukur sekali karena setiap kali aku membuat kesalahan Mak selalu dengan kelembutannya memberikan wejangan yang menenangkan sehingga nurutlah aku.


Banyak yang ingin kuceritakan, tapi rasanya mataku sudah ingin terpejam. Selamat malam dunia tulisan yang tak pernah bosan mendengar cerita dan selalu setia mendengarkan setiap kata yang ada. Sampai jumpa, tulisan ini akan kulanjutkan... Assalamualaikum :)


Senin, 15 Januari 2018

Puisi : Coretan Pendaki

Bunga Mekar di Pegunungan

Bunga di Pos pendirian sebelum Puncak Gunung Sumbing


Oleh :
Syamsul Ma'arif


Sebuah sajak sederhana
Keluar dari hati, di olah dengan pikiran
di abadikan dengan tangan
Pejamkan mata untuk di kenang

Berdiri megah nan tangguh,
Berdiam diri nan menenangkan
Berwarna hijau nan menentramkan
Memberikan angin kesejukan dan kehidupan

Beda cara namun satu bahasa
Bahasa "Bahagia"
Berjalan di punggungmu seolah tak merasakan susah
Terkadang merasa derita
dan inilah cerita

Cerita sekawanan manusia mencari kehidupan
Berjalan menyusuri hutan dengan bergandengan
Menuju puncak berharap dengan kebersamaan
Apalah daya, setiap insan 'unik' dalam berkemampuan

Mulai dari pikiran dan cara mencari kehidupan
Bukan tentang masa
atau dengan siapa
Ini tentang diri kita

Sejauh mana kita melangkah,
Semoga bunga tetap indah dipandang
Tetap dikenang dalam dalam
Meski bunga akan layu

Bunga mekar di pegunungan
Biarkan tumbuh dan menjadi kenangan



Semarang, 15 Februari 2015

Kamis, 16 Juni 2016

Sampul Buku "Rajin Pangkal Pandai"

HANYA SEBUAH SAMPUL




Masa SD merupakan masa bahagia, masa ceria dan masa dimana menuntut ilmu itu seperti halnya mengukir diatas batu. Meskipun susah masuknya, tapi alangkah sucinya masa itu sehingga dengan mudahnya mental diri terdidik kala SD.

Oh ya, kita bicara tentang sampul buku... Iya, hanya sampul buku. Sampul buku penuh dengan kalimat jimat misalnya, bersih pangkal sehat, gemar membaca buku membuka cakrawala dunia, buku sumber ilmu dan masih banyak lagi lainnya. Namun, ada kalimat sampul buku yang menjadi cambuk di masa sekarang ini (studi).

Sebuah perbincangan dijalan menuju bandara internasional Ahmad Yani Semarang mengantar teman dari Pesut Mahakam atau Kutai Kartanegara untuk pulang kekampung halaman. Ketika aku membicarakan kerajinan tentang salah seorang temanku, dia menjawab dengan nada santai agak serius "sekarang itu (masa kuliah) bukan hanya masalah pintar  seseorang, tapi tentang rajin tidaknya orang tersebut" kurang lebihnya dia berkat demikian. Pikiranku sendiri bergumam "sepintar apapun seseorang, tanpa dia rajin mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Maka percumalah."

Kembali ke kalimat sampul buku "Rajin Pangkal Pandai" apa hubungannya? Entah sadar atau tidak sadar, dulu para pendahulu kita memikirkan masa depan kita. Mulai dari penjajahan hingga  merdeka, melalui ideologi hingga pemersatu bangsa dan 'PENDIDIKAN.' Hanya sebuah sampul beliau para pendahulu kita mengajari tentang bahwa pentingnya seseorang itu rajin dan bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu hal (tentunya yang positif). Tak peduli tentang jurusanku, tak peduli nanti mau jad apa nantinya, hanya kesungguhan dan rajin seseorang yang akan menghasilkan buah manis.

Hanya sebuah sampul.... Sampul usang itu mengajarkan kita, tak perlu merasa minder jika kurang pintar. Hanya dengan rajin kepintaran itu akan  terciptakan. Bahkan, pernah kudengar dari salah seorang guruku beliau berkata bahwa ada sebuah hadist yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda 'waktu ibarat pedang yang terhunus dari setiap orang.'

Sampailah waktuku memikirkan itu, ternyata benar saja. Waktu itu akan bermanfaat bila kita manfaatkan namun, akan hilang percuma jikalau kita membiarkan. Oh Tuhan Yang Maha Besar, betapa hinanya diri ini karena membuang percuma waktu yang telah Kau berikan hingga sekarang ini.

Hanya sebuah uneg-uneg dalam pikiran, apabila ada yang membaca kritik sarannya saya ucapkan terimakasih. *Mungkin juga tidak ada yang baca hehe

Selamat berkreasi  semua. RAJIN PANGKAL PANDAI.

Minggu, 22 Mei 2016

Celotehku

Entahlah...


Foto diambil dari Gn. Sindoro

Syamsul ma'arif



Entahlah,..
Entah apa yang membuatku terdiam
Tak merasakan nyenyaknya tidur dalam keheningan malam
Seltiap waktu terasa hening dan kelam
Semua karenaku... Atau karena kamu...

Jika pergi, pergilah!!!
Jika datang, tak usah di depan pintu menjadi sebuah penghalang.
Mari sini kudekap dengan kehangatan rasa sayang,
atau... 
Pergilah tak usah kau tampakkan cahaya yang seolah terang 
padahal hanya sayup cahaya yang mulai padam

Ibarat air yang terkena nila,
Putihnya tak mungkin jernih seperti awalnya,,,
Pergi,
atau kembali disini?

Aku masih percaya, 
Yang di Atas Sana kan menurunkan hujan,
hujan penghibur lara,
hujan pembersih luka,
dan hujan yang memberikanku nyawa bahagia....

Entahlah... Kapan waktunya,,,
Entah kamu ataukan lainyya...
Semoga datang hujan sang Maha Kuasa...
Aku rindu padanya,,,



Semarang, 22 Mei 2016

Minggu, 14 Februari 2016

Terganjal Sebuah Perasaan dan Pemikiran

Pikiran dan Perasaan


Oleh : Syamsul Ma'arif

Manusia Ciptaan sempurna dari makhluk sang Pencipta lainnya
Bekal yang diberi tak hanya bisa dirasa
Bisa dirasakan dan bisa dipikirkan untuk sebuah pertimbangan
Namun, 
Apa jadinya?
Jika pikiran dan perasaan tak seirama?
Hati menginginkan...
Namun berbeda jika dipikirkan
Pikiran menolak karena pengalaman yang menyakitkan

Hanya sekedar menulis sebuah pikiran 
Belum mendapatkan guru bimbingan
Guru bimbingan yang dapat menentukan arah
Tujuan... ya... Hingga menemukan tujuan hidup 
Hidup yang bahagia di alam sementara dan di alam yang selama-lamanya...

Sebatas doa dan harapan yang terpanjatkan,
Semoga yang terbaik datang memberi kekuatan
Petunjuk dan kemampuan menjalani kehidupan

Tuhan... Kaulah Maha dari segala Maha...
Allah Ta'ala... Berikan hambamu ini Hidayah dalam setiap langkah
amminnn...


Semarang, 14 Februari 2016

Senin, 21 Desember 2015

Celotehku : Puisi untukmu

Kekasih Pertamaku



Oleh :
Makhluk yang tak sempurna
(Syamsul ma'arif)


Bahagia,
Ya... Bahagia itu saat melihatmu bahagia
Kala itu tak pernah terbayang kau kan mendua
Mendua-pun aku masih percaya
Karena kurasa kamu kekasih yang setia

Hancur,
Sedih...
Tak menyangka dan nalarku tak terima
Bagai di sambar petir di hari yang cerah
Maksud hati memberi kejutan,
Justruuu....

Aku terkejut!!!
Terkejut bagaikan memanjat pohon mengambil kelapa
Sudah di atas tinggal memetiknya
namun, ternyata kelapa jatuh menimpa
hingga terjatuh juga pemanjatnya,

Rasa ini hancur rasanya
Hancurpun masih terasa sakit juga rupanya
Hati sudah kau hancurkan,
Masih juga kau menyayatnya

Mencoba menegakkan rasa
Karena aku masih percaya

Namun ternyata, kamu memang tidak dapat di percaya
Iya, malam ini
Malam ini aku bahagia karena bertemu 
yang kurindu, ku cinta dan semangat jiwa

Apa memang tidak mau melihatku bahagia???
Hingga yang kurasa dan kukira hanya sebatas kata
Iya, sebatas kata dan foto 
Terpampang, kulihat dan kubaca yang membuatku tersenyum bahagia
Namun, tak berselang lama

Tangan sigapmu MENGGANTINYA.

Ya... Aku kayaknya juga gak berhak kecewa
Kecewapun kamu tak menghiraukannya
dan...
Aku sadar, kalau memang kamu cinta sejatiku
Kamu akan kembali pada waktunya

Aku juga percaya,
Tuhan menciptakan makhluk-Nya tanpa tertukar
Tanpa tertukar tulang rusuknya
Begitupun kamu.

Ku melepaskanmu karena ku mencintaimu
Maafkan aku, 
Aku bukan kaku.
Kalau aku kaku gak bakal bertahan sampai sejauh ini.

Mungkin kamu juga tak menghiraukannya
dan mungkin saja kamu bercerita ke pria lainnya
Buruk sangkaku keluar dengan sendirinya

Hanya saja prasangka baikku,
Tuhan menciptakan manusia dengan pasangan-Nya
dan
Aku percaya Tuhan sayang dengan hamba-Nya

Akupun percaya,
Aku mempunyai jodoh yang baik hatinya
dan akan menerimaku apa adanya
Karena aku tau "aku bukanlah siapa-siapa"
dan bukan pula orang "berpunya"


Terimakasih.
Kamu Kekasih Pertamaku


Semarang, 21 Desember 2015

Minggu, 20 Desember 2015

Membuka Tirai Pagi

Membuka Tirai Pagi

Oleh :
Syamsul Ma'arif



Malam yang gelap terlewati dengan di temani hujan
Hujan deras sehingga perasaan tak terlihat
Halilintar menggelegarpun tak terdengar
Suara sahutan angin yang mengingatkan tak terhiraukan

Seonggok pohon tanpa sadar di tinggalkan akar
Akar yang menjadi tambatan
Tak jelas memilih dalam tindakan
Bertahan...
Atau meninggalkan...

Pohon dengan rasa kepercayaan 
Percaya kalau akar kan setia bersama menghadapi hujan
Kilatan cahaya petir mulai terlihat
Hujan lebatpun datang,

Akar tak menguatkan
Memilih diam dan...
Tanpa perasaan,
Meninggalkan


Pohon harus tegar, 
Tegar dalam kesendirian
Menguatkan diri tanpa akar
dan...
Menunggu tirai pagi datang


Pohonpun bergumam 
"Semoga akar baru datang,
menguatkan"


Semarang, 20 Desember 2015
 

Sabtu, 28 November 2015

Menutup Mata

Nyamanku?


Syamsul Ma'arif
Semarang, 28 November 2015


Tidak tahu tentang malam ini
Merebahkan tubuh mematikan lampu dan menutup mata
Mendengarkan musik sebagai pancingnya
Sajak puisi Gus Mus terputar tak membuat menutup mata

Entah racun apa yang menyerang
Entah apa yang ada dalam pikiran
Apa mungkin ini madu kehidupan
Manisnya kehidupan yang terasakan

Sekedar menulis tak tau yang di tuangkan
Mengerjakan laporan tak terasa nyaman
Nyamanku hilang,
dan Nyamanku, kapan datang?

Selasa, 27 Oktober 2015

Ikhlas (?)

Ikhlas



Kata yang mudah di ucapkan dan yang serik kita dengar, dari sejak kita kecil bahkan di didik untuk berlatih ikhlas. Sering kali juga mengucapkan ikhlas kepada seseorang, ternyata sebuah kata "ikhlas" tidak mudah seperti yang kubayangkan. Setelah sekian lama menuruti siklus hidup yang berujung kepada kematian dan kembali kehakikat menuju Sang Pencipta ikhlas perlu dan harus di miliki bagi setiap kaum manusia yang didunia.

Kini masa remaja bahkan dewasa yang masih remaja aku mempelajari sebuah arti keikhlasan dan benar saja, ikhlas itu tidak semudah yang di bayangkan. Membutuhkan waktu dan pemikiran yang lama untuk meluruskan niat. Harapan, mimpi dan usaha yang telah dilakukan seringkali membuat kita buta karena terlalu percaya pada semua itu tanpa memasrahkan semua kepada Sang Kuasa. Bila mimpi, harapan di sertai usaha itu musnah maka pemikiran akan menjadi berbolak-balik arah. Seperti halnya keimanan seseorang, ada dua sisi runcing dan mematikan yang akan menentukan kehidupan kita selanjutnya. Akankah kita menyerah atau meluruskan niat yang sebelumnya bengkok karena sesuatu hal yang sudah ditetapkan-Nya.

Teringat suatu ketika sebelum masuk kuliah, waktu itu di pondok BPUN pernah dapat weling (nasihat) "kalau punya tujuan jangan belok-belok." Ya, itu masih teringat jelas kesalahan waktu itu di pondok. Ketika itu, ada konser ungu. Sebagai remaja yang nge-fans Ungu waktu itu, saya rela keluar dari majlis pengajian dengan teman seperjuangan saya (sekarang di ITB) demi menonton konser tersebut. Bisa di bilang konser pertama kali sampai saat ini yang ku tonton .

Kembali kepada kata "ikhlas," aku tahu! Sepertinya itu kesalahanku, rasanya juga manusiawi jika merasa tidak terima ketika mimpi dan harapan kita hilang. Apa mimpiku itu salah? Kehendak Illahi lain, kupasrahkan semua tentang 3 hal yang di genggam-Nya. Semoga yang terbaik akan menggantikannya yang hilang. Mimpiku kini belum jelas, belum tahu arah. Menuruti tuntunan sang Illahi Rabbi dalam menjalankan kehidupan yang belum tahu kapan akan akhirnya. Andai ada sesosok wanita yang bisa menuntunku. :)