Rabu, 06 September 2017

Habitat dan Tingkah Laku Udang WIndu (Panaeus monodon)


Habitat dan Tingkah Laku Udang Windu



Habitat udang windu (P. monodon) adalah laut dan dikenal sebagai penghuni dasar laut. Namun hanya udang windu dewasa yang mencari tempat yang dalam di tengah laut. Saat muda, udang windu (P. monodon) berada di perairan yang dangkal di tepi pantai, bahkan ada yang memasuki muara sungai dan tambak berair payau. Udang termasuk hewan euryhaline (dapat mentolelir kisaran salinitas yang luas). Udang windu dapat hidup pada salinitas 3 -  35 ppt. Selain bersifat euryhaline, udang windu juga bersifat eurythermal yaitu hewan yang dapat mentolelir perubahan suhu yang luas. Goncangan suhu yang besar dimedia kultur, terutama ditambak pada musim kemarau, yaitu pada siang hari suhu mencapai 32 0C dan pada malam hari suhu menurun menjadi 22 0C masih dapat ditolelir oleh udang, walaupun pada kondisi demikian, udang sensitif terhadap serangan penyakit (Ghufron, 2010).
Semua udang memiliki sifat alami yang sama, yakni aktif dalam kondisi gelap (nocturnal), baik aktifitas untuk mencari makan dan reproduksi. Beberapa indra yang digunakan udang untuk mendeteksi makanan adalah penglihatan (sight), audiosense, thermosense dan chemosense. Berdasarkan keempat indra tersebut chemosense atau chemoreseptor merupakan alat yang paling peka untuk mendeteksi pakan yang diberikan. Udang pada saat mencari makan lebih mengandalkan indera perasa seperti antenna flagella, rongga mulut, kaki jalan (pereipoda), carapace dari pada indra penglihatan (Sumeru dan Suzy, 1992).
Udang pada siang hari hanya membenamkan diri pada lumpur maupun menempelkan diri pada suatu benda yang terbenam dalam air. Apabila keadaan lingkungan tambak cukup baik, udang jarang sekali aktif bergerak diwaktu siang hari. Apabila pada suatu tambak udang tampak aktif bergerak di waktu siang hari, hal tersebut merupakan tanda bahwa ada yang tidak sesuai. Ketidaksesuaian ini disebabkan oleh jumlah makanan yang kurang, kadar garam meningkat, temperatur meningkat, kadar oksigen menurun ataupun timbulnya senyawa-senyawa beracun (Suyanto dan Mujiman, 2004).


KEPUSTAKAAN

Ghufran, M. 2010. Pakan Udang: Nutrisi, Formulasi, Pembuatan, dan Pemberian. Akademia. Jakarta. 102 hlm.

Sumeru, S.U dan S. Anna. 1992. Pakan Udang Windu (Penaeus monodon)., Yogyakarta: Kanisius.

Suyanto, R. dan Mujiman, A. 2004. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta. 211 hlm.

0 komentar:

Posting Komentar